Pengaruh naungan net dan interval panen terhadap pertumbuhan tanaman, hasil, dan kualitas hasil buncis Cv. Kenya di Jatinangor
Abstract
Di daerah tropis seperti di Indonesia, intensitas cahaya dan temperatur udara yang tinggi menjadi masalah dalam penanaman buncis hasil introduksi dari daerah subtropis, umumnya tanaman buncis yang dimanfaatkan polong mudanya ditanam di dataran tinggi. Masalah dalam penanaman buncis dataran tinggi di dataran medium yang memiliki temperatur udara lebih tinggi dapat diatasi antara lain dengan penggunaan naungan net dan pengaturan interval panen. Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh naungan net dan interval panen yang dapat memberikan pertumbuhan, hasil dan kualitas hasil yang baik pada tanaman buncis Kenya. Percobaan ini dilaksanakan di Lahan Percobaan Laboratorium Kultur Terkendali Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor dengan ketinggian tempat sekitar 730 meter di atas permukaan laut (dpl), percobaan dilakukan pada bulan Juli 2013 sampai Oktober 2013. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi dengan empat ulangan, sebagai petak utama adalah penggunaan naungan dan tanpa naungan, sedangkan anak petak adalah interval panen terdiri dari setiap hari, 2 hari sekali, dan 3 hari sekali. Hasil percobaan menunjukkan tidak terjadi interaksi antara penggunaan naungan dan interval panen pada semua parameter yang diamati. Penggunaan naungan net dapat menurunkan intensitas cahaya pada siang hari sebesar 35,27 % yang berdampak pada penurunan tempe-ratur udara pada siang hari sekitar 1-2 C, kondisi ini menyebabkan pertumbuhan tanaman dalam naungan lebih tinggi dan luas daun terlebar lebih besar, namun tidak berpengaruh terhadap semua parameter pengamatan hasil dan kualitas hasil. Perlakuan interval panen setiap hari menghasilkan tanaman dengan total jumlah polong per plot, persentase jumlah dan bobot polong layak pasar, serta persentase jumlah dan bobot polong kulitas A lebih banyak dibandingkan interval panen 3 hari sekali. Perlakuan interval panen 2 hari sekali menghasilkan jumlah polong per plot, persentase jumlah polong layak pasar, dan persentase jumlah dan bobot polong kualitas A lebih banyak dibandingkan dengan interval panen 3 hari sekali. Hasil dan kualitas hasil panen pada periode I lebih tinggi dibandingkan panen periode II.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Anggarwulan, E., Solichatum, dan M. Widya. 2008. Karakter fisiologi kimpul (Xanthosoma sagittifolium (L.) Schott) pada variasi naungan dan ketersediaan air. Jurnal Biodiversitas 9(4): 264-268.
Araya, T., K. Noguchi, and I. Terashima. 2006. Effects of carbohydrate accumulation on photosynthesis differ between sink and source leaves of Phaseolus vulgaris L. Plant Cell Physiol. 47(5): 644-652.
Egli, D.B. 2005. Flowering, pod set, and reproductive in soya bean. J. Agron. 24: 11-18.
Evans, J.R. and H. Poorter. 2001. Photosynthetic acclimation of plants to growth irradiance: the relative importance of specific leaf area and nitrogen partitioning in maximizing carbon gain. Plant Cell Environ. 24: 755-767.
Fachruddin, L. 2000. Budidaya Kacang-kacangan. Kanisius. Yogyakarta.
Firmansyah, F., T.M. Onggo, dan A.M. Akyas. 2009. Pengaruh umur pindah tanam bibit dan populasi tanaman terhadap hasil dan kualitas sayuran pakcoy (Brassica campestris L. Chinensis group) yang ditanam dalam naungan kasa di dataran medium. Jurnal Agrikultura 20(3): 216-224.
Hadi, H., K.G. Gozelani, F.R. Khoei. 2006. Response of common bean (Phaseolus vulgaris L.) to different levels of shade. J. Agron. 5(4) : 595-599.
Harmanto. 2006. Effect of screen sizes on performance of an adapted greenhouse for tomato production in the humid tropics. Jurnal Enjiniring Pertanian 4(1): 33-40.
Lakitan. 2010. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. PT. Rajagrafindo Persada. Jakarta.
Lin, M.J. and B.B. Hsu. 2004. Photosynthetic of phalaenopsis in response to different light environments. J. Plant Physio. 161: 1259-1268.
Neri, D., R. Battistelli, and G. Albertini. 2003. Effect of low-light intensity and temperature on photosynthesis and transpiration on Vigna sinensis L. J. Fruit and Ornamental Plant Research 11: 17-24
Pantilu, L.I., F.R. Mantin, dan D. Pandiangan. 2012. Respon Morfologi dan Anatomi Kecambah Kacang Kedelai (Glycine max L. Merill) terhadap intensitas cahaya yang berbeda. Jurnal Bioslogos 2(2): 80-87.
Rosliani, R., N. Sumarni, dan N. Nurtika. 2001. Penentuan pupuk makro dan macam naungan untuk tanaman cabai di musim hujan. J.Hort 11(2) : 102-109.
Widiastuti, L., Tohari, dan E. Sulistyaningsih. 2004. Pengaruh intensitas cahaya dan kadar daminosida terhadap iklim mikro dan pertumbuhan tanaman krisan dalam pot. Ilmu Pertanian 11(2) : 35-42.
Yamaguchi, M. 1983. World Vegetables: Principles, Production, and Nutritive Values. The Avi Publishing Company. Newyork.
DOI: https://doi.org/10.24198/kultivasi.v13i1.69230
Refbacks
- There are currently no refbacks.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Jurnal Kultivasi Indexed by:

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.






