Nilai Hambur Balik Akustik Terhadap Tingkat Tutupan dan Tinggi Kanopi yang Didominasi Jenis Lamun E. acoroides di Perairan Pulau Mantang

Intan Suraya, Asep Ma'mun, Aditya Hikmat Nugraha

Abstrak


Penelitian ini dilakukan di Perairan Pulau Mantang pada bulan Juli 2024 dengan tujuan untuk mengukur tutupan lamun, tinggi kanopi, serta menentukan nilai hambur balik akustik surface backscattering strength (SS) terhadap tingkat tutupan dan tinggi kanopi yang berbeda. Lamun merupakan ekosistem pesisir yang penting karena berperan sebagai habitat biota laut, penyerap karbon, dan penahan sedimen sehingga informasi terkait kondisi tutupan dan strukturnya sangat diperlukan untuk mendukung pengelolaan ekosistem pesisir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah hidroakustik dengan instrumen single beam echosounder SIMRAD EK-15 berfrekuensi 200 kHz. Pengumpulan data diawali dengan survei lokasi yang memiliki hamparan lamun, kemudian dilakukan perekaman data akustik secara purposive sampling pada kondisi kapal diam dengan durasi 5 menit di setiap titik. Pengukuran tutupan lamun dilakukan menggunakan transek kuadran berukuran 50 × 50 cm yang dikategorikan menjadi tutupan jarang, sedang, dan padat. Selain itu, dokumentasi foto menggunakan kamera bawah air juga dilakukan untuk mendukung validasi hasil. Jumlah titik sampel yang diperoleh sebanyak 31 titik. Data akustik selanjutnya diolah dengan perangkat lunak ESP3 untuk mendapatkan nilai volume backscattering strength (Sv) dan surface backscattering strength (SS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai SS terhadap tutupan lamun yang berbeda berkisar antara -40 dB hingga -20 dB. Analisis regresi linear sederhana antara nilai tutupan lamun dan SS menghasilkan persamaan y = 7,4728(Ln(x)) – 62,135 dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 62,22%. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang cukup kuat antara tingkat tutupan lamun dengan nilai hambur balik akustik. Sebaliknya, uji regresi linear sederhana antara tinggi kanopi dan SS memperlihatkan hubungan yang sangat lemah dengan nilai R² = 0,0061 sehingga dapat disimpulkan bahwa tinggi kanopi tidak berpengaruh nyata terhadap variasi nilai hambur balik. Penelitian ini menegaskan bahwa parameter tutupan lamun memiliki pengaruh signifikan terhadap respon akustik, sedangkan tinggi kanopi tidak memberikan kontribusi yang berarti. Temuan ini dapat menjadi acuan bagi penelitian lanjutan dalam pemanfaatan teknologi akustik untuk pemetaan lamun secara non-destruktif dan efisien di wilayah pesisir.

Kata Kunci


Kelautan

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Akmal, S. A., Siregar, V. P., Nababan, B., & Prasetyo, L. B. (2017). Acoustic characterization of seagrass beds using single beam echosounder in Pari Island, Indonesia. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 54: 012081.

Arkham, M. N., Adrianto, L., & Wardiatno, Y. (2015). Studi keterkaitan ekosistem lamun dan perikanan skala kecil (studi kasus: Desa Malang Rapat dan Berakit, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau). Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, 10(2), 137-148.

Asriyana, A., Jompa, J., Rahmat, R., & Baderan, D. W. K. (2020). Mapping of seagrass ecosystems using single beam echosounder in coastal waters of Toronipa, Southeast Sulawesi, Indonesia. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 429: 012014.

Azkab, M. H. (2000). Panduan Monitoring Padang Lamun. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi – LIPI, Jakarta.

Bengen, D. G. (2002). Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir: Panduan Pengelolaan Secara Terpadu. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, IPB, Bogor.

Brown, C. J. (2015). Benthic habitat mapping using acoustic techniques. Estuarine, Coastal and Shelf Science, 92(3): 502–520.

English, S., Wilkinson, C., & Baker, V. (1997). Survey Manual for Tropical Marine Resources. Australian Institute of Marine Science, Townsville.

Esri. (n.d.). Feature class basics [ArcGIS Help]. Environmental Systems Research Institute.

Dahuri, R. (2001). Keanekaragaman Hayati Laut: Aset Pembangunan Berkelanjutan. PT Gramedia Pustaka Utama.

Fahruddin, A., Sani, A., & Sani, A. (2017). Struktur Komunitas Lamun di Perairan Pulau Barranglompo, Kota Makassar. Jurnal Ilmu Alam dan Lingkungan, 8(1), 1-10.

Foote, K. G. (1987). Calibration of acoustic instruments for fish density estimation: a practical guide. ICES Cooperative Research Report, 144: 1–57.

Hamuna, B., Pujiyati, S., & Hestirianoto, T. (2014). Karakterisasi pantulan akustik karang menggunakan echosounder single beam. Jurnal Integrasi, 6(2), 129- 133.

Hernawan, U.E., Rahmawati, S., Ambo-Rappe, R., Sjafrie, N.D.M., Hadiyanto, H., Yusup, D.S., Nugraha, A.H., La Nafie, Y.A., Adi, W., Prayudha, B., Irawan, A., Rahayu,Y.P., Ningsih, E., Ritniasih, I., Supriadi, I.H., & McMahon, K., (2021). The First Nation-Weed Assessment Identifies Valuable Blue-Carbon Seagrass Habitat In Indonesia Is In Moderate Condition. Science of The Total Environment, 634:279-86. DOI: 10.1016/j.scitotenv.2021.146818.

Hidayat, R., Siregar, V. P., Nababan, B., & Prasetyo, L. B. (2021). Seagrass habitat mapping using Random Forest algorithm on Sentinel-2 imagery in Banten Bay, Indonesia. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 744: 012104.

Kawaroe M, Indrajaya, Happy SI. (2005). Pemetaan bioekologi padang lamun (seagrass) di Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Pesisir & Lautan 6: 31-41.

Helsel, D. R., & Hirsch, R. M. (2002). Statistical Methods in Water Resources (Techniques of Water-Resources Investigations, Book 4, Chapter A3). U.S. Geological Survey.

Komatsu,T., Igarashi, C., Tatsukawa, K., Sultana, S., Matsuoka, Y., & Harada, S. (2003). Use of multi-beam sonar to map seagrass beds in Otsuchi Bay on the Sanriku Coast of Japan. Aquatic Living Resources, 16(3), 223-230. https://doi.org/10.1016/S0990- 7440(03)00045-7.

Kurniawan, D., Jompa, J. & Haris, A. (2017). Pertumbuhan Tahunan Karang Goniopora stokesi di Perairan Kota Makassar Hubungannya dengan Faktor Cuaca. Jurnal Akuatiklestari, 1(1) : 8-15.

Maclennan, D. N dan Simmonds, E. J. (2005). Fisheries Acoustic. Chapman and Hall. Oxford: Blackwell Science.

Manik, H. M., Apdillah, D., Dwinovantyo, A., & Solikin, S. (2017). Development of Quantitative Single Beam Echosounder for Measuring Fish Backscattering. Dalam A. Zak (Ed.), Advances in Underwater Acoustics (hlm. 1-17). InTech.

Manik, H. M., Furusawa, M., & Amakasu, K. (2006). Quantifying sea bottom surface backscattering strength and identifying bottom fish habitat by quantitative echo sounder. Japanese Journal of Applied Physics, 45(6S), 4865.

Manik, H. M., & Apdillah, D. (2020). Remote Sensing of Seagrass and Seabed using Acoustic Technology in Bintan Seawater, Indonesia. Pertanika Journal of Science & Technology, 28(2), 421-439.

McKenzie, L. J., Campbell, S. J., & Roder, C. A. (2003). Seagrass-Watch: Manual for Mapping & Monitoring Seagrass Resources, 2nd Edition. Queensland Fisheries Service, Northern Fisheries Centre, Cairns.

Montgomery, D. C. (2020). Introduction to Statistical Quality Control (8th ed.). Wiley.

Ningtyas, A. D. (2014). Karakteristik hambur balik akustik (backscattering strength) pada padang lamun di Perairan Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Skripsi. Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Nugraha, A. H., & Kurniawan, D. (2021). Rekrutmen karang keras (Scleractinia) berdasarkan zona geomorfologi di Perairan Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis,. 13(2): 269-281.

Nugraha A H, Srimariana E S, Jaya I, Kawaroe M. (2019). Struktur ekosistem lamun di Desa Teluk Bakau, Pesisir Bintan Timur-Indonesia. Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan. 8(2):87-9 .

Nurmasari, R., Putri, A. H. A., Rosmaida, S., Nurkhalifah, U., & Ramadhan, F. (2023). Identifikasi Tutupan Dan Kondisi Perairan Pada Ekosistem Lamun Di Pulau Tidung Kecil. Jurnal Teknologi Perikanan Dan Kelautan, 14(1), 25-32.

Nybakken JW. (1992). Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Penerbit PT. Gramedia. Jakarta.

Orth, R. J. (2006). A Global Crisis for Seagrass Ecosystems. BioScience, 56(12): 987–996.

Pujiyati, S. (2008). Pendekatan metode hidroakustik untuk analisis keterkaitan antara tipe substrat dasar perairan dengan komunitas ikan demersal [Thesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor, pp 1-185.

Rusmayanti, S. H. (2012). Acoustic backscatter measurements of value Enhalus acoroides Pari Island, Thousand Islands, Jakarta.

Sabol, B. M., Melton, R. E., Jr., Chamberlain, R., Doering, R. P., & Haunert, K. (2007). Field validation of the acoustic mapping system in shallow lakes. Vicksburg, MS: U.S. Army Engineer Research and Development Center.

Short, F.T., Carruthers, W.D., & Waycott, M., (2007). Global Seagrass Distribution And Diversity: A Bioregional Model. Journal of Experimental Marine Biology and Ecology, 350(1-2): 3-20. DOI: 10.1016/j.jembe.2007.06.012.

Siwabessy, P. J. W. (2001). An investigation of the relationship between seabed type and benthic and bentho-pelagic biota using acoustic techniques. The Curtin University of Technology, Australia.

Unsworth, R. K. F. (2011). Seagrass meadows support global fisheries production. Conservation Letters, 7(5): 1–8.

Urick, R. J. (1983) Principles of Underwater Sound, 3rd edn. McGraw- Hill, New York, p 423.

Waycott, M., McKenzie, L.J., Mellors, J.E., Ellison, J.C., Sheaves, M.T., Collier, C., & Schwarz, A.M., (2011). Vulnerability of mangroves, seagrasses and intertidal flats in the tropical Pacific to climate change.

Zurba, N. (2018). Pengenalan Padang Lamun: Suatu Ekosistem Yang Terlupakan. Unimal Press. Universitas Malikussaleh. Lhokseumawe.




DOI: https://doi.org/10.24198/jaki.v10i2.63054

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


##submission.copyrightStatement##

##submission.license.cc.by-nc-nd4.footer##

Jurnal Ini Terindeks di:


 width= width= width= width= width= width= width= width= width=


 

Penerbit:

Fakultas Ilmu Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Jl. Raya Bandung-Sumedang KM. 21 Jatinangor