Wayang as an Instrument of Indonesia’s Nation Branding through Public Diplomacy

Najwa Dzakkiyah Khairunnisa, Windy Dermawan, Mikka Wildha Nurrochsyam

Abstrak


Wayang is a form of cultural heritage originating from Indonesia and is recognized in various local traditions, including Javanese, Sundanese, and Balinese cultures. Initially, Wayang functioned as a medium for communicating with ancestral spirits; however, over time, it has evolved into a medium for conveying messages, providing entertainment, and educating the public. Wayang has been officially acknowledged by UNESCO as an Intangible Cultural Heritage of Humanity. Indonesia’s appreciation of Wayang is further institutionalized through National Wayang Day, which is celebrated annually on 7 November. Nevertheless, Indonesia has yet to establish a distinctive “brand” that effectively introduces Wayang to international audiences. This study employs a qualitative approach based on a literature review. It aims to explore the potential of Wayang as Indonesia’s national brand. The findings indicate that Wayang has strong potential to serve as Indonesia’s brand, as it contributes to cultural preservation, supports economic development through the empowerment of related industries, promotes cultural tourism, and helps enhance Indonesia’s international image as a country rich in culture and values. Therefore, this article argues that the development of Wayang as Indonesia’s brand requires the synergy of three key pillars: the government, art and cultural organizations, and digitalization. These three pillars must work in tandem to successfully position Wayang as Indonesia’s national brand.

 

Wayang merupakan warisan budaya yang berasal dari Indonesia. Wayang sangat familiar di berbagai kebudayaan Indonesia seperti kebudayaan Jawa, Sunda, dan Bali. Awalnya, Wayang digunakan sebagai media untuk berkomunikasi dengan roh nenek moyang namun seiring dengan berjalannya waktu, Wayang digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan, menghibur, dan mengedukasi massa. Wayang telah diakui sebagai warisan budaya tak benda yang luar biasa oleh UNESCO. Apresiasi Indonesia terhadap Wayang telah diperkuat dengan perayaan Hari Wayang Nasional setiap 7 November. Akan tetapi, Indonesia belum memiliki “merek” yang membuat masyarakat asing mengenal Wayang secara lebih baik. Penelitian ini, menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan studi pustaka. Kajian ini bertujuan untuk melakukan ekplorasi mengenai Wayang sebagai merek Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Wayang dapat digunakan sebagai “merek” Indonesia yang bermanfaat karena bisa mendukung proses pelestarian budaya, meningkatkan ekonomi yang bisa memberdayakan industri terkait, mendukung pariwisata budaya, dan memproyeksikan citra yang positif Indonesia sebagai negara dengan kebudayaan dan nilai-nilai yang kaya. Agar Wayang bisa maju sebagai merek Indonesia, terdapat tiga hal fundamental: pemerintah, organisasi seni dan budaya, serta proses digitalisasi. Tiga pilar tersebut perlu berjalan bersamaan untuk mewujudkan Wayang sebagai merek Indonesia.


Kata Kunci


Cultural Heritage, Nation Branding, Public Diplomacy, Soft Power, Wayang

Teks Lengkap:

PDF (English)

Referensi


Al Ghafiqi, A. F. (2023). Gastrodiplomasi: Strategi Indonesia dalam Membangun Nation Branding di Kancah Internasional. Journal of International Relations, 9(2), 140–152. https://doi.org/https://doi.org/10.14710/jirud.v9i2.38440

Awalin, F. R. N. (2018). Sejarah Perkembangan dan Perubahan Fungsi Wayang dalam Masyarakat (History of Development and Change of Wayang Functions in Society). Jurnal Kebudayaan, 13(1), 77–89. https://doi.org/https://doi.org/10.24832/jk.v13i1.234

Bryman, A. (2012). Social Research Methods (Fourth). Oxford Univeristy Press.

Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. (2017). Rancangan Undang-Undang Republik Indonesia tentang Kebudayaan. Berkas DPR RI. https://berkas.dpr.go.id/akd/dokumen/RJ2-20170331-081137-7314.pdf

Enhuber, M. (2015). Art, space and technology: how the digitisation and digitalisation of art space affect the consumption of art—a critical approach. Digital Creativity, 26(2), 121–137. https://doi.org/10.1080/14626268.2015.1035448

Google Arts & Culture. (2024). Explore Palm Leaf Manuscripts of South Asia. Google Arts and Culture. https://artsandculture.google.com/story/IAUBsKvHCIfh_g

Hardani, H., Juliana Sukmana, D., Fardani, R., Andriani, H., Auliya, N. H., Utami, E. F., Isitqomah, R. R., & Jumari, U. (2020). Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif. Penerbit Pustaka Ilmu. https://www.researchgate.net/publication/340021548

Hocking, B. (2005). Rethinking the “New” Public Diplomacy. In J. Melissen (Ed.), The New Public Diplomacy: Soft Power in International Relations (pp. 28–43). Palgrave Macmillan.

Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia. (2023). 7 Alasan Wayang Menjadi Warisan Budaya Tak Benda UNESCO. Berita. https://itjen.kemdikbud.go.id/web/7-alasan-wayang-menjadi-warisan-budaya-tak-benda-unesco/

JDIH BPK. (2017). UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Database Peraturan. https://peraturan.bpk.go.id/Details/37642/uu-no-5-tahun-2017

Kedutaan Besar Republik Indonesia Perancis. (2023). Dubes RI dan Ketua Umum SENAWANGI bahas Pelestarian Warisan Budaya Indonesia. Siaran Pers KBRI Paris. https://www.kemlu.go.id/paris/id/news/25828/dubes-ri-dan-ketua-umum-senawangi-bahas-pelestarian-warisan-budaya-indonesia

Lamont, C. (2015). Research Methods in Politics and International Relations. SAGE Publication.

Nugraha, S. (2023). Mengenal Organisasi Senawangi dan Program Kerjanya di Dunia Pewayangan Indonesia. Netral News. https://www.netralnews.com/mengenal-organisasi-senawangi-dan-program-kerjanya-di-dunia-pewayangan-indonesia/NWI0ZDJybFZuMi9CMVppSVFNM0o1dz09

Nye, J. S. (2008). Public diplomacy and soft power. Annals of the American Academy of Political and Social Science, 616(1), 94–109. https://doi.org/10.1177/0002716207311699

Octaviana, N. (2016). Upaya Asean Puppetry Association (Apa) Dalam Pembentukan Identitas Asean Community Melalui Seni Pewayangan. EJournal Ilmu Hubungan Internasional, 6(1), 81–094. https://ejournal.hi.fisip-unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2017/07/EJOURNAL%20NADYA%20OCTAVIANA%20(07-27-17-02-11-55).pdf

Olins, W. (2005). Making a Nation Brand. In J. Melissen (Ed.), The New Public Diplomacy: Soft Power in International Relations (pp. 169–179). Palgrave Macmillan.

PEPADI. (2015). Profil PEPADI. PEPADI. https://pepadi.id/pepadi/

Rahmadana, V., & Prakoso, H. A. (2022). Penyelenggaraan Pagelaran Olahraga Balap di Sirkuit Mandalika sebagai Upaya Peningkatan Nation Branding Indonesia. Jurnal MODERAT, 8(2), 284–302. https://doi.org/https://doi.org/10.25157/moderat.v8i2.2704

Reza, A. (2022). Mengenal Tokoh Cepot, Si Kocak tapi Bijak dalam Wayang Golek. Good News from Indonesia. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2022/11/01/

Richards, G. (2018). Cultural tourism: A review of recent research and trends. Journal of Hospitality and Tourism Management, 36, 12–21. https://doi.org/10.1016/j.jhtm.2018.03.005

Satria, F., & Fadillah, F. (2021). Konsep City Branding dan Identifikasi Nilai Lokal pada Kota-Kota Indonesia dalam Mendukung Nation Branding Indonesia. Jurnal Desain, 8(2), 147–158. https://doi.org/10.30998/jd.v8i2.8118

Snow, N., & Cull, N. J. (2020). Routledge Handbook of Public Diplomacy (Second Edition).

Solichin, S. (2010). Wayang: Masterpiece Seni Budaya Dunia. Sinergi Persadatama Foundation.

UNIMA. (2022). About Us - UNIMA. UNIMA Indonesia. https://www.unima.or.id/about-us/

United Nations World Tourism Organization. (2017). Tourism and Culture. Tourism and Culture. https://www.unwto.org/tourism-and-culture

Universitas Muhammadiyah Ponorogo. (2023). Gunungan Wayang Jadi Simbol Pembukaan Musyda Ini Rahasianya. Universitas Muhammadiyah Ponorogo. https://umpo.ac.id/987-gunungan-wayang-jadi-simbol-pembukaan-musyda-ini-rahasianya.html#:~:text=Gunungan%20pada%20wayang%20kulit%20berbentuk,karsa%20dan%20karya%20dalam%20kehidupan.

Vinta, V. (2023). Hari Wayang Nasional, Begini Sejarahnya. Radio Republik Rakyat Indonesia. https://rri.co.id/lain-lain/433167/hari-wayang-nasional-begini-sejarahnya#:~:text=Menetapkan%20wayang%20sebagai%20Masterpiece%20of,per%20tanggal%204%20November%202008.

Wiyono, U. (2023). Wayang: Aset Budaya Nasional Sebagai Refleksi Kehidupan dengan Kandungan Nilai-Nilai Falsafah Timur. Majalah Jendela Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan. https://jendela.kemdikbud.go.id/v2/kebudayaan/detail/wayang-aset-budaya-nasional-sebagai-refleksi-kehidupan-dengan-kandungan-nilai-nilai-falsafah-timur




DOI: https://doi.org/10.24198/padjir.v8i1.62905

Padjadjaran Journal of International Relations Terindeks Di:

 Google Scholar   Indonesia One SearchWorldCat Crossref  Bielefeld Academic Search Engine (BASE)