Korelasi antara tingkat keparahan maloklusi berdasarkan dental health component dan aesthetic component dari IOTN dengan kesadaran mencari perawatan maloklusi: studi cross-sectional
Abstract
ABSTRAK
Pendahuluan: Maloklusi merupakan keadaan yang menyimpang dari oklusi normal meliputi ketidakaturan gigi-geligi dalam lengkung rahang seperti gigi berjejal, protrusif, malposisi maupun hubungan yang tidak harmonis dengan gigi antagonisnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat keparahan maloklusi dengan tingkat kesadaran mencari perawatan. Tingkat keparahan maloklusi akan diukur menggunakan Index of Orthodontic Need (IOTN) yang terdiri dari 2 komponen yaitu aesthetic component (AC) dan dental health component (DHC). Tujuan penelitian menganalisis korelasi tingkat keparahan maloklusi dental health component dan aesthetic component dari IOTN dan kesadaran mencari perawatan maloklusi. Metode: Jenis penelitian analitik dengan desain cross sectional. Penelitian ini menggunakan simple random sampling yaitu akan dilakukan pengambilan sampel yang dilakukan secara acak pada siswa-siswi SMA Negeri 1 Kota Tidore Kepulauan sebanyak 650 orang. Berdasarkan perhitungan besar sampel didapatkan jumlah responden adalah 100 orang. Penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner online dan dilakukan pengambilan foto intraoral menggunakan googleform. Analisis yang digunakan adalah uji korelasi spearman untuk mengetahui hubungan antara tingkat keparahan maloklusi dengan kesadaran siswa-siswi mencari perawatan maloklusi. Hasil: Didapatkan hasil tingkat keparahan maloklusi berdasarkan aesthetic component dari IOTN adalah mayoritas subyek tidak perlu perawatan atau perawatan ringan sebanyak 94 orang (94,0%). Hasil dari tingkat keparahan maloklusi berdasarkan dental health component dari IOTN didapatkan mayoritas subyek kebutuhan perawatan ringan sebanyak 49 orang (49,0%). Hasil dari penilaian tingkat kesadaran maloklusi didapatkan mayoritas subyek dengan kriteria baik sebanyak 59 orang (59,0%). Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat korelasi antara tingkat keparahan maloklusi berdasarkan AC dengan tingkat kesadaran mencari perawatan (p=0,767) dan tidak terdapat korelasi antara tingkat keparahan maloklusi berdasarkan DHC dengan tingkat kesadaran mencari perawatan (p=0,782). Simpulan: Penelitian ini menunjukkan tidak terdapat korelasi antara tingkat keparahan maloklusi berdasarkan AC dan DHC dari IOTN dengan tingkat kesadaran mencari perawatan.
Kata kunci
index of orthodontic treatment need, aesthetic component, dental health component, kesadaran, maloklusi
The relationship between the severity of malocclusion and malocclusion awareness of seeking treatment: a cross-sectional study
ABSTRACT
Introduction: Malocclusion is a condition that deviates from normal occlusion, including irregularities of the teeth in the arch, such as crowding, protrusion, malposition, or an inharmonious relationship with the antagonist’s teeth. This study aims to determine the relationship between the severity of malocclusion and the level of awareness in seeking treatment. The subjects in this study were students of SMA Negeri 1 Tidore Islands City. The severity of malocclusion will be measured using the Index of Orthodontic Need (IOTN), which consists of 2 components, namely the aesthetic component and the dental health component. Method: The type of design-based analytical research is cross sectional. This research used simple random sampling method. A random sampling procedure was carried out on a total of 650 students from SMA Negeri 1 Tidore Islands City. Based on sample size calculations, the number of respondents was 100 people. This research was carried out by distributing questionnaires online, and the intraoral photographs were taken using Google Forms. The Spearman correlation test was used to analyze the relationship between the severity of malocclusion and students' awareness in seeking malocclusion treatment. Results: According to the AC from IOTN regarding the severity of malocclusion ,most of the subjects, 94 people (94.0%), did not require treatment or light treatment .The results of the severity of malocclusion based on DHC from IOTN found that the majority of subjects needed light care for as many as 49 people (49.0%). The assessment results for the level of awareness of malocclusion revealed that the majority of subjects with good criteria were 59 people (59.0%). The results of the analysis showed that there was no correlation between the severity of malocclusion based on AC and the level of awareness of seeking care (p=0.767) and there was no correlation between the level of severity of malocclusion based on DHC and the level of awareness of seeking medical attention (p=0.782). Conclusion: There is no correlation between the severity of malocclusion, based on AC and DHC from IOTN, and the level of awareness about seeking treatment
Keywords
index of orthodontic treatment need, aesthetic component, dental health component, awareness, malocclusion.
Full Text:
PDFReferences
DAFTAR PUSTAKA
Laguhi VA, Anindita PS, Gunawan PN. Gambaran maloklusi dengan menggunakan hmar pada pasien di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Sam Ratulangi Manado. e-GIGI. 2014;2(2):1-2. DOI: 10.35790/eg.2.2.2014.5829
Cenzato N, Nobili A, Maspero C. Prevalence of dental malocclusions in different geographical areas: Scoping review. Dent J. 2021;9(10). DOI: 10.3390/dj9100117
Hanindira M, Zen Y, Juliani M. Prevalensi maloklusi dengan etiologi premature loss gigi sulung. J Ked Gi Terpadu. 2020;2(1):61-63. DOI: 10.25105/jkgt.v2i1.7530
Loblobly M, Anindita PS, Leman MA. Gambaran maloklusi berdasarkan indeks handicapping malocclusion assessment record (hmar) pada siswa SMA N 9 Manado. e-GIGI. 2015;3(2). DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10487
Ramadhani F, Oenzil F, Hidayati H. The relationship between ectomorph skeletal shape and incidence of angle malocclusion to 16 years old students At SMAN 4 Padang. Andalas Dent J. 2015;3(2):67-75. DOI: 10.25077/adj.v3i2.53
Djunaid A, Gunawan PN, Khoman JA. Gambaran pengetahuan tentang tampilan maloklusi pada siswa sekolah menengah pertama kristen 67 Immanuel Bahu. e-GIGI. 2013;1(1):28-29. DOI: 10.35790/eg.1.1.2013.1926
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Provinsi Maluku Utara 2018. Published online 2018. h. 172-177.
Novawaty E, Puspitasari Y, Bachtiar WN. Hubungan tingkat keparahan maloklusi dengan kualitas hidup mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi. e-GiGi. 2023;12(1):55-59. DOI: 10.35790/eg.v12i1.48373
Khairunnisa F, Zenab NRY, Latif DS. Proporsi klasifikasi maloklusi angle mahasiswa angkatan 2015 dan 2016 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran. Maj Ked Gi Klin. 2023;8(2):64. DOI: 10.22146/mkgk.77745
Wilar LA, Rattu AJM, Mariati NW. Kebutuhan perawatan orthodonsi berdasarkan index of orthodontic treatment need pada siswa SMP Negeri 1 Tareran. e-GIGI. 2014;2(2). DOI: 10.35790/eg.2.2.2014.5035
Kustantiningtyastuti D, Oenzil F, Lathiva M. Hubungan persepsi dengan tingkat kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan dental aesthetic index. Cakradonya Dent J. 2022;14(1):57-62. DOI: 10.24815/cdj.v14i1.27304
Kamal S, Yusra Y. Hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan kebutuhan perawatan ortodonti interseptif (kajian pada anak usia 8 - 11 Tahun di SDN 01 Krukut Jakarta Barat). J Ked Gi Terpadu. 2020;2(1):14-18. DOI: 10.25105/jkgt.v2i1.7515
Hansu C, Anindita PS, Mariati NW. Kebutuhan perawatan ortodonsi berdasarkan index of orthodontic treatment need di SMP Katolik Theodorus Kotamobagu. e-GIGI. 2013;1(2). DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.2623
Oktavianti V. Pengaruh layanan informasi melalui media animasi terhadap peningkatan kesadaran anti-bullying peserta didik SMP Negeri 19 Bandar Lampung. 2021;10:6. DOI: 10.24036/02015426460-0-00
Kuswandi LJ, Kusumandari W, Adiwinarno B. Hubungan tingkat kebutuhan perawatan maloklusi berdasarkan aesthetic component dari IOTN terhadap kesadaran remaja perempuan melakukan perawatan ortodonti. Univ Muhammadiyah Semarang. Published online 2019. h. 4. DOI: 10.25105/jkgt.v5i1.17122
Farani W, Abdillah MI. Prevalensi maloklusi anak usia 9-11 Tahun di SD IT Insan Utama Yogyakarta. Insisiva Dent J. 2021;10:1. DOI: 10.18196/di.v10i1.7534
Cobourne M.T DiA. Handbook of Orthodontics. In: Philadelphia: Elsevier; 2020. p. 22-25
Oley AB, Anindita PS, Leman MA. Kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan index of orthodontic treatment need pada usia remaja 15 – 17 Tahun. e-GIGI. 2015;3(2). DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.8770
Kolonia F, Anindita P MC. Kebutuhan perawatan ortodonsi berdasarkan index of orthodontic treatment need pada siswa usia 12-13 tahun di SMP Negeri 1 Wori. e-GIGI. 2016;4(2):260. DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.14164
Suala HN, Wibowo D, Setyawardhana RHD. Kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan index of othodontic treatment need pada remaja (Literature Review). Dentino J Ked Gi. 2021;V(3):129-133. DOI: 10.25105/jkgt.v5i1.17086
Farani W, Abdillah MI. Prevalensi maloklusi anak usia 9-11 Tahun di SD IT Insan Utama Yogyakarta. Insisiva Dent J Maj Ked Gi Insisiva. 2021;10(1):26-31. DOI: 10.3390/dj9100117
Suryani R, Suparwitri S, Hardjono S. STUDI KASUS Perawatan ortodontik interseptif pada maloklusi kelas III. MKGK. 2016;2(2):92-100. DOI: 10.22146/mkgk.32003
DOI: https://doi.org/10.24198/jkg.v36i1.51155
Refbacks
- There are currently no refbacks.
Copyright (c) 2024 Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
INDEXING & PARTNERSHIP
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution 4.0 International License