Prevalensi suspek sinusitis maksilaris odontogenik ditinjau dari radiograf panoramik di instalasi radiologi RSGM UNPAD

Prevalence of odontogenic maxillary sinusitis suspects based on the panoramic radiographs at Universitas Padjadjaran Academic Dental Hospital Dentomaxillofacial Radiology Installation

Shabrina Romadhona, Belly Sam, Fahmi Oscandar

Abstract


Pendahuluan: Sinus maksilaris, yang disebut juga Antrum Highmore merupakan sinus yang sering terinfeksi. Satu di antara penyebabnya adalah karena sinus ini merupakan sinus paranasal yang terbesar dan bentuknya bervariasi di setiap individu. Radiografi panoramik merupakan satu di antara teknik radiografi yang dapat melihat gambaran kedua sinus dan hubungannya terhadap gigi serta relatif aman karena paparan radiasinya tidak sebesar teknik radiografi lain. Penelitian mengenai prevalensi sinusitis maksilaris odontogenik telah banyak dilakukan tetapi peneliti belum menemukan adanya penelitian serupa di wilayah Bandung, Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi suspek sinusitis maksilaris odontogenik ditinjau dari radiograf panoramik di RSGM FKG Unpad. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Hasil: Hasil penelitian dari 44 sampel yang diteliti, terdapat suspek radiologis sinusitis maksilaris odontogenik sebanyak 16 radiograf. Simpulan: Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa prevalensi suspek kasus sinusitis maksilaris odontogenik pada arsip radiograf panoramik pasien yang mengalami infeksi pulpo apikal yang datang ke Instalasi Radiologi RSGM Unpad pada periode Juli-September 2013 adalah sebesar 36,36% dengan suspek kasus banyak terdapat pada populasi usia dewasa muda dan lanjut, dengan proporsi jumlah yang sama pada populasi perempuan dan laki-laki, dan lebih banyak melibatkan infeksi dari gigi molar pertama dan kedua.

Kata kunci: Panoramik, prevalensi, sinus maksilaris, odontogenik.

 

ABSTRACT

Introduction: Maxillary sinus, also called Antrum Highmore, is a sinus that is often infected. One of the causes is because this sinus is the largest paranasal sinus and its shape varies in each individual. Panoramic radiography is one of the radiographic techniques that can see both sinus images and their relationship to teeth and is relatively safe because exposure to radiation is not as large as other radiographic techniques. Research on the prevalence of odontogenic maxillary sinusitis has been carried out but researchers have not found similar studies in the Bandung, West Java region. This study aims to determine the prevalence of odontogenic maxillary sinusitis suspicions from panoramic radiographs at RSGM FKG Unpad. Methods: This type of research is descriptive. Sample selection is done by purposive sampling technique. Results: The results of the 44 samples studied were radiological suspects of 16 radiographs of odontogenic maxillary sinusitis. Conclusion: The conclusions of this study are that the prevalence of odontogenic maxillary sinusitis cases in panoramic radiographs of patients who have apical pulpo- rine infection who came to the Radiology Hospital Unpad installation in the period of July-September 2013 was 36.36% with many cases suspected in the population. young and advanced adulthood, with the same proportion of women and men, and more involving infections from first and second molars.

Keywords: Panoramic, prevalence, maxillary sinus, odontogenic.


Keywords


Panoramik, prevalensi, sinus maksilaris, odontogenik, panoramic, prevalence, maxillary sinus, odontogenic.

Full Text:

PDF

References


Jacob S. Atlas of human anatomy. Philadelphia: Elsevier. 2002. h. 57-62.

Hilger, Peter A. Penyakit sinus paranasalis, dalam: Haryono, Kuswidayanti, editor BOIES, Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta: EGC. 1997. P. 200.

Mangunkusumo E., Rifki Nusjirwan. Sinusitis. dalam: Soepardi Efiaty A, Iskandar Nurbaiti, editor. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan edisi 4. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2000. P. 121-125.

Whaites E. Essentials of dental radiography and radiology 3rd Ed. London. 2002. h. 320-328.

Wald, ER. Rhinitis and acute and chronic sinusitis. Pediatric Otolaryngology 2nd ed. Philadelphia: WB Saunders. 1990. h. 729.

Ramalinggam KK. Anatomy and physiology of nose and paranasal sinuses. A short practice of otolaryngology. All India Publishers. 1990. P. 214-23.

Farhat. 2006. Peran infeksi gigi rahang atas pada kejadian sinusitis maksila di RSUPH. Medan: Adam Malik Medan. Departemen Ilmu Kesehatan THT, Bedah Kepala, dan Leher FK USU RSUP H. Adam Malik. 2006. h. 386-92.

Sunaryanto A, Ratnawati LM. Sinusitis maksilaris. Denpasar: Laporan kasus. 2008 Tersedia pada:https://andikunud.files.wordpress.com/2010/08/sinusitis-maksilaris.

Peterson LJ. Oral and maxillofacial surgery. St. louise, Missoury: Mosby. 2003. h. 212-20.

Mehra P, Murad H. Maxillary sinusitis disease of odontogenic origin. Otolaryngologic Clinic of North America. 2004. h. 56-7.

Malik NA. Textbook of oral and maxillofacial surgery 2nd ed. New Delhi: Jaypee. 2008. h. 273-5.




DOI: https://doi.org/10.24198/jkg.v28i3.18692

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2016 Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

INDEXING & PARTNERSHIP

     

      

     

 

Statistik Pengunjung

Creative Commons License
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution 4.0 International License